Rabu, 22122010
pukul 08.45 WIB
Dengan meneteskan air mata ku tuliskan perasaan yg kurasakan
saat ini.
Aku bukannya tidak setuju atau tidak senang saudaraku "mas I"
bercerai dan menikah lagi dg mbak "V". Secara agama yg dilakukan saudaraku
benar..hatikupun bisa menerima, tp bagiku secara sosial kemasyarakatan atau
lahiriah aku tidak bisa berbuat apa-apa.. Apa kata tetangga?? Bagiku itu beban
berat. Andai aku mampu pergi dari rumah orang tua pasti kulakukan..tp aku tidak
mampu untuk pergi meninggalkan Bapak..kasihan Bapak. Sekali lagi itu beban berat
bagiku. Kenapa saudaraku "mas I" begitu nyantai dan cuek dg beban perasaan dan
keadaan yg kualami. Andai urusan "mas I" sudah beres dan menikah lagi entah dg
siapapun insyaAllah lahir batinku akan menerima dg "legawa". Tp sayang "mas I"
menikah lagi pada situasi dan waktu yg menurutku kurang tepat..urusan
perceraiannya dg "mbak E" dan urusan anak-anaknya belum 100 % beres. Kasihan anak-anaknya..mereka menjadi
korban. Andai "mas I" dan "mbak E" dulu mau belajar dari keadaanku yaitu "aku
punya anak dan pengen merawat sendiri tp ternyata keinginanku berbeda dg
kehendak Allah, aku belum diperkenankan merawat anakku sendiri"..tp mereka
bercerai tanpa berpikir panjang tentang masa depan anak-anaknya. Kutulis
kejadian yg pernah kualami itu bukan berarti aku tidak ikhlas..tp hanya untuk
mengingatkan saja, aku tidak ada keraguan apapun kepada Allah, aku tetap
bersyukur atas semua yg terjadi padaku.
Ya Allah, di saat tiada seorangpun jua menemani dan
memahamiku.. Alhamdulillah Engkau selalu bersamaku.
Ku paham betul= meski suami, orang tua, mertua, saudara, teman,
guru, tetangga atau siapapun tidak bisa setiap saat bisa mengerti dan memahami
aku..dan merekapun tidak bisa setiap saat setiap waktu bisa diandalkan dan
dimintai pertolongan. Hanya kepadaMUlah ya Allah ku percaya dan meminta
pertolongan. Ya Allah.. Engkaulah sebaik-baik penolong. Aku yakin dg keadaan ini
Engkau akan mengangkat derajatku menjadi hamba yg mulia dan pasti Engkau
memberikan yg terbaik kepadaku.
Ini kujadikan pengalaman dan pelajaran..meski orang tua kurang
sepaham dan kurang sepakat terhadap anaknya dalam memilih calon istri/ suami tp
anaknya ngotot minta dinikahkan..maka orang tua harus berjuang keras untuk
setuju dan mengikhlaskan atas pilihan anaknya itu. Benar-benar berat perjuangan
seorang ibu untuk mendidik dan membahagiakan anaknya.
Maafkanlah aku ibu.. Semoga ibuku disana (alam kubur) mendapat
tempat yg mulia dan berbahagia.
O ya, ku ingat hari ini hari ibu.. Buat para ibu "Selamat Hari
ibu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar