SUBHAANALLAH..! ! ... Kisah Anak Cacat yang Sukses ...
SUBHAANALLAH..! ! ... Kisah Anak Cacat yang Sukses ...
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ...
Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang
tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha
Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan
kematian di kalangan masyarakat.
Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun d
ari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa
ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan
berwajah bopeng.
Anak ini tinggal di tengah saudara-saudara
nya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di
belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama. Akan
tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan
terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit
mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di
mana-mana, sementara saudara-saudara nya hanya menertawainya ketika ia
jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”
Mereka
tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka)
bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang
tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan
saudara-saudara nya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk
dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan. Meskipun demikian, dia
termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan
mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan
dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia
mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang
normal.
Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya
yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan
manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudara nya yang
lain.
Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah
beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya
tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan
mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga
menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar
anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan
yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di
seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah,
dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan
orang orang terlantar. Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal),
sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya
setiap saat.
Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya.
Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas
punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh,
ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan
anakku ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua
riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di
mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan
berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan
kepadanya.”
Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,
Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-. Pada waktu iu, umurku baru
mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada
halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam
setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Allah.
Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa
saja yang kamu inginkan ….”
Tentu saja, aku menangis
keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan
lagi keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku,
saudara-saudara , dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan
mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di
tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”
Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya,
beliau memberiku pakaian-pakaian ku seraya berkata, “Tawakal kepada
Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”
Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudara ku hanya diam
saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta
sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku
bahwa aku akan hidup enak di sana.
Aku pun berjalan sambil
tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu
di bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di
belakangnya, sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku
menyesali perpisahanku dengan keluargaku.
Setelah lewat
sembilan hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang
unta itu benar benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak
sumur dan jamuan makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai
semuanya dan masih merasa sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu. Dalam
hati, aku berkata, “Bagaimana mungkin aku hidup di suatu negeri yang
aku tidak mengetahui apa pun dan tidak mengenal siapa pun? Aku
berangan-angan, andaikan aku bisa melihat, pastilah aku sudah berlari
entah kemana … ke padang pasir barangkali. Akan tetapi, atas rahmat
Allah, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu.
Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada
Syekh Abdurrahman Al-Qasim rahmahullah dan mereka katakan, “Ini orang
asing, hidup sebatang kara.”
Syekh menghampiri aku, lalu
menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana.
Kemudian, beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka
air mataku. Beliau berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku
pun menceritakan kisahku kepada beliau.
“Kamu akan baik baik
saja, insya Allah. Semoga Allah memberimu manfaat dan membuat kamu
bermanfaat. Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan
melihat nanti hal-hal yang menggembirakanm u di sisi kami. Kamu akan
kami gabungkan dengan para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan
kami beri tempat tinggal dan makanan. Di sana ada saudara-saudara di
jalan Allah yang akan selalu memperhatikan dirimu.”
Aku
menjawab, “Semoga Allah memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku
tidak menghendaki semua itu. Aku ingin Tuan berbaik hati kepadaku,
kembalikan aku kepada keluargaku bersama salah satu kafilah yang menuju
Al-Qashim.”
Syekh berkata, “Anakku, coba dulu kamu tinggal
bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau tidak, kami akan
mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Allah.”
Selanjutnya, Syekh memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini
dengan Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia
dengan baik.”
Orang itu membimbing dan membawaku menemui dua
orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut kedatanganku dengan baik
dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku ceritakan kepada
mereka
berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah tinggal
di situ karena harus berpisah dari keluargaku. Tak ada yang dilakukan
kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku.
Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama
sama mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang
kepada mereka. Keduanya selalu bersikap baik padaku. Semoga Allah
memberi mereka dariku balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri
belum juga terlepas dari kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku
masih tetap menangis dari waktu ke waktu atas perpisahanku dengan
keluargaku.
Kedua temanku itu tinggal di sebuah kamar dekat
masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu bersama mereka.
Pagi-pagi benar, kami pergi shalat subuh, lalu duduk di masjid mengikuti
pengajian Alquran sampai menjelang siang. Syekh menyuruh kami menghapal
Alquran. Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa saat,
makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu
zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang
(qailulah), dan sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti
pengajian.
Demikian yang kami lakukan setiap hari hingga
akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi sedikit, makin membaik
dari hari ke hari, bahkan akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk
menghapal Al Quran, terutama setelah Syekh–rahimahul lah–memberi
dorongan dan perhatian khusus kepadaku. Aku pun melihat diriku mengalami
kemajuan dan menghapal hari demi hari. Sementara itu, Syekh selalu
mempertajam minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata,
“Kenapa kalian tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan
dan ketekunannya, padahal ia orang buta!”
Dengan kata-kata
itu, aku semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan
teman temanku dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah
bulan, Allah ta’ala telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan
hati, sehingga dapatlah aku menikmati hidup baru ini.
Syahdan,
setelah tujuh bulan lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam
diriku,“Subhana llah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam
hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita
melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba
kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan,
kepayahan ketidakpedulian , dan penghinaan, sedangkan aku merasa
menjadi beban mereka?”
Demikianlah kehidupan yang aku jalani di
Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan aku sudah
dapat menghafal Alquran sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku ajukan
hapalanku itu kehadapan Syekh sebanyak dua kali. Selanjutnya, Syekh
mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syekh Muhammad bin
Ibrahim dan Syekh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada
mereka. Kemudian, guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam
halaqah-halaqah ilmu. Adapun murajaah Alquran, dilakukan sehabis shalat
subuh, kamu akan dipandu oleh Fulan. Sesudah magrib, kamu akan dipandu
oleh Fulan.”
Sejak saat itu, mulailah aku menghadiri
halaqah-halaqah dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu dengan
kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah,
Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh
materi diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.
Sementara itu, aku sendiri, hari demi hari semakin merasa betah,
semakin senang, dan tenteram hidup di lingkungan itu. Aku benar benar
merasa bahaia mendapat kesempatan mencari ilmu. Sementara itu, agaknya
orang tuaku di kampung selalu bertanya kepada orang-orang yang bepergian
ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku beliau mendapat berita-berita
tentang perkembanganku.
Demikianlah, alhamdulillah, aku
berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati taman-taman ilmu.
Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk menjenguk
keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus
perjalananku bersama seorang tukang unta. Dengan memuji Allah, aku pun
berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka
sangat gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama
Ibuku–rahimahal lah–. Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan
aku katakan, “Aku kira, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang
lebih bahagia selain aku ….”
Ya, kini mereka melihatku dengan
senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan
menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku
menceritakan kepada mereka pengalaman-peng alaman yang telah aku alami
selama ini. Mereka senang mendengarnya dan memuji kepada Allah.
Setelah beberapa hari berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta
izin untuk pergi meninggalkan mereka kembali. Mereka bersikeras
memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku segera mencium kepada
ayah-bundaku. Aku meminta pengertian dan izin kepada keduanya, dan
alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh
meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.
Adapun dari teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang
menceritakan, “Dia sangat rajin dan bersemangat dalam mencari ilmu,
sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman seangkatannya. Sangat
banyak ilmu yang dia peroleh. Adapun hal yang sangat ia sukai adalah
apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan kepadanya
sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang berdiskusi
dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hapal yang
sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.
Tatkala
umunya mencapai 18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan
santri santri kecil dan agar menyuruh mereka menghapalkan beberapa
matan kitab.
Ketika Fakultas Syariah Riyadh dibuka, beberapa
orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia mengikutinya, dan
dengan demikian dia, termasuk angakatan pertama yang dihasilkan oleh
fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk menjadi
tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.
Pada akhir
hayatnya, dia pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan
lewat tangannya muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi
hakim, orator, guru, direktur, dan sebagainya.
Pada tiap musim
haji, dia tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping
kesibukannya sebagai pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi
nafkah kepada keluarganya dan saudara saudaranya, dan dapat pula
membantu kerabat-kerabat nya yang lain.
Adapun saudara
saudaranya yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka
mendapatkan kebaikan yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada
yang kebetulan tidak pandai mencari uang.
Betapa banyak karunia
dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri
kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah:216)
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita
By: Citi Lumiyati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar