... SEINDAH KEIKHLASAN SALMAN AL FARISI ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Salman al-Farisi pada awal hidupnya
adalah seorang bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia menganut
agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya.
Kemudian ia mengalami pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat
menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab
dan akhirnya memeluk agama Islam.
Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi
kota Madinah dalam pertempuran khandaq. Setelah meninggalnya Nabi
Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya,
hingga ia wafat. Salman termasuk sahabat nabi yang dekat bahkan ada
sebuah riwayat Rasulullah saw menyatakan, “Salman termasuk keluarga bagi
kami.”
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang
wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah
juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai
kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus,
juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini.
Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh
dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum
begitu dikenalnya.
Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi
tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada
seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam
khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar
yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah ..
wal hamdulillaah ..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum
bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup,
beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah
kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili
saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan
segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”,
kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya.
”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha
Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun
jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri
kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah.
Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri
lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan
ironis.
Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan;
reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan
bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang
membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum
punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah
yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan
menjadi saksi pernikahan kalian!”
***
Kisah di atas
saya kutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah.
Baca dan resapi kisahnya. Cinta yang berbingkai keimanan, tak akan
pernah meminggirkan rasa cinta pada Allah dan RasulNya. Bahwa ketika
rasa itu berbenturan dengan harapan dan kenyataan, maka tak ada yang
perlu ditangisi dan diratapi.
Karena sejatinya tak ada yang
kita miliki, semua milik Nya, bahkan istri/suami ataupun anak kita. Maka
hak Allah lah jika suatu saat harus mengambilnya atau mengalihkan
amanahnya pada orang lain.
... Jadilah gentlemen sejati, bukan
lelaki cemen ala sinetron yang tak pernah belajar apa arti dewasa, apa
arti cinta sesungguhnya dan apa arti hidup ...
... dan buang
jauh-jauh fiksi picisan macam romeo-juliet, cinderella, sleeping beauty,
dll yang tak pernah mengajarkan arti cinta sejati yang sesungguhnya ..
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah ...
--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini
... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
kami mohon ampunan ... ----
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar