Rabu, 30 Januari 2013

SUBHAANALLAH..!­ ! ... Kisah Anak Cacat yang Sukses ...

 
SUBHAANALLAH..!­ ! ... Kisah Anak Cacat yang Sukses ...

Bismillahir-Rah­ maanir-Rahim ...

Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.

Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun d
ari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.

Anak ini tinggal di tengah saudara-saudara­ nya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama. Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara saudara-saudara­ nya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”

Mereka tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudara­ nya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan. Meskipun demikian, dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal.

Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudara­ nya yang lain.

Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah, dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar. Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.

Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh, ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”

Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,
Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-.­ Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada halaqah-halaqah­ ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Allah. Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang kamu inginkan ….”

Tentu saja, aku menangis keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara­ , dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”

Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaian­ ku seraya berkata, “Tawakal kepada Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”

Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudara­ ku hanya diam saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.

Aku pun berjalan sambil tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di belakangnya, sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku menyesali perpisahanku dengan keluargaku.

Setelah lewat sembilan hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang unta itu benar benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak sumur dan jamuan makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai semuanya dan masih merasa sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu. Dalam hati, aku berkata, “Bagaimana mungkin aku hidup di suatu negeri yang aku tidak mengetahui apa pun dan tidak mengenal siapa pun? Aku berangan-angan,­ andaikan aku bisa melihat, pastilah aku sudah berlari entah kemana … ke padang pasir barangkali. Akan tetapi, atas rahmat Allah, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu. Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada Syekh Abdurrahman Al-Qasim rahmahullah dan mereka katakan, “Ini orang asing, hidup sebatang kara.”

Syekh menghampiri aku, lalu menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana. Kemudian, beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka air mataku. Beliau berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku pun menceritakan kisahku kepada beliau.

“Kamu akan baik baik saja, insya Allah. Semoga Allah memberimu manfaat dan membuat kamu bermanfaat. Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan melihat nanti hal-hal yang menggembirakanm­ u di sisi kami. Kamu akan kami gabungkan dengan para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan kami beri tempat tinggal dan makanan. Di sana ada saudara-saudara­ di jalan Allah yang akan selalu memperhatikan dirimu.”

Aku menjawab, “Semoga Allah memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku tidak menghendaki semua itu. Aku ingin Tuan berbaik hati kepadaku, kembalikan aku kepada keluargaku bersama salah satu kafilah yang menuju Al-Qashim.”

Syekh berkata, “Anakku, coba dulu kamu tinggal bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau tidak, kami akan mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Allah.”

Selanjutnya, Syekh memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini dengan Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia dengan baik.”

Orang itu membimbing dan membawaku menemui dua orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut kedatanganku dengan baik dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku ceritakan kepada mereka
berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah tinggal di situ karena harus berpisah dari keluargaku. Tak ada yang dilakukan kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku. Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama sama mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang kepada mereka. Keduanya selalu bersikap baik padaku. Semoga Allah memberi mereka dariku balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri belum juga terlepas dari kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku masih tetap menangis dari waktu ke waktu atas perpisahanku dengan keluargaku.

Kedua temanku itu tinggal di sebuah kamar dekat masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu bersama mereka. Pagi-pagi benar, kami pergi shalat subuh, lalu duduk di masjid mengikuti pengajian Alquran sampai menjelang siang. Syekh menyuruh kami menghapal Alquran. Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa saat, makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang (qailulah), dan sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti pengajian.

Demikian yang kami lakukan setiap hari hingga akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi sedikit, makin membaik dari hari ke hari, bahkan akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menghapal Al Quran, terutama setelah Syekh–rahimahul­ lah–memberi dorongan dan perhatian khusus kepadaku. Aku pun melihat diriku mengalami kemajuan dan menghapal hari demi hari. Sementara itu, Syekh selalu mempertajam minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata, “Kenapa kalian tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan dan ketekunannya, padahal ia orang buta!”

Dengan kata-kata itu, aku semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan teman temanku dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah bulan, Allah ta’ala telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga dapatlah aku menikmati hidup baru ini.

Syahdan, setelah tujuh bulan lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam diriku,“Subhana­ llah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian­ , dan penghinaan, sedangkan aku merasa menjadi beban mereka?”
Demikianlah kehidupan yang aku jalani di Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan aku sudah dapat menghafal Alquran sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku ajukan hapalanku itu kehadapan Syekh sebanyak dua kali. Selanjutnya, Syekh mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syekh Muhammad bin Ibrahim dan Syekh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada mereka. Kemudian, guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam halaqah-halaqah­ ilmu. Adapun murajaah Alquran, dilakukan sehabis shalat subuh, kamu akan dipandu oleh Fulan. Sesudah magrib, kamu akan dipandu oleh Fulan.”

Sejak saat itu, mulailah aku menghadiri halaqah-halaqah­ dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu dengan kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah, Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh materi diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.
Sementara itu, aku sendiri, hari demi hari semakin merasa betah, semakin senang, dan tenteram hidup di lingkungan itu. Aku benar benar merasa bahaia mendapat kesempatan mencari ilmu. Sementara itu, agaknya orang tuaku di kampung selalu bertanya kepada orang-orang yang bepergian ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku­ beliau mendapat berita-berita tentang perkembanganku.

Demikianlah, alhamdulillah, aku berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati taman-taman ilmu. Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk menjenguk keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus perjalananku bersama seorang tukang unta. Dengan memuji Allah, aku pun berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka sangat gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama Ibuku–rahimahal­ lah–. Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan aku katakan, “Aku kira, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih bahagia selain aku ….”

Ya, kini mereka melihatku dengan senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku menceritakan kepada mereka pengalaman-peng­ alaman yang telah aku alami selama ini. Mereka senang mendengarnya dan memuji kepada Allah.

Setelah beberapa hari berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta izin untuk pergi meninggalkan mereka kembali. Mereka bersikeras memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku segera mencium kepada ayah-bundaku. Aku meminta pengertian dan izin kepada keduanya, dan alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.

Adapun dari teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang menceritakan, “Dia sangat rajin dan bersemangat dalam mencari ilmu, sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman seangkatannya. Sangat banyak ilmu yang dia peroleh. Adapun hal yang sangat ia sukai adalah apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan kepadanya sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang berdiskusi dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hapal yang sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.

Tatkala umunya mencapai 18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan santri santri kecil dan agar menyuruh mereka menghapalkan beberapa matan kitab.

Ketika Fakultas Syariah Riyadh dibuka, beberapa orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia mengikutinya, dan dengan demikian dia, termasuk angakatan pertama yang dihasilkan oleh fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk menjadi tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.

Pada akhir hayatnya, dia pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan lewat tangannya muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi hakim, orator, guru, direktur, dan sebagainya.

Pada tiap musim haji, dia tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping kesibukannya sebagai pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi nafkah kepada keluarganya dan saudara saudaranya, dan dapat pula membantu kerabat-kerabat­ nya yang lain.

Adapun saudara saudaranya yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka mendapatkan kebaikan yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada yang kebetulan tidak pandai mencari uang.

Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita
By: Citi Lumiyati

Minggu, 20 Januari 2013

Kontroversi peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang sudah kental dan memasyarakat di kalangan kaum muslim. Bukan cuma di Indonesia, tradisi yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam Hijriah itu, juga marak diperingati oleh umat Islam berbagai dunia.
== Dua pendapat yang bertentangan ==
Dilihat dari [[sudut pandang]] ''[[Hukum Islam|hukum syarak]]'' ada dua pendapat yang bertentangan dalam menangani  masalah peringatan maulid Nabi.

=== Pendapat pertama ===
Pendapat pertama, yang menentang, mengatakan bahwa maulid Nabi merupakan [[bid’ah mazmumah]], menyesatkan. Pendapat pertama membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual. Perayaan maulid Nabi SAW itu tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam [[Al-Quran]] dan juga [[Al-Hadis]]. [[Syekh Tajudiin Al-Iskandari]], ulama besar berhaluan [[Mazhab Maliki|Malikiyah]] yang mewakili pendapat pertama, menyatakan maulid Nabi adalah [[bid’ah mazmumah]], menyesatkan. Penolakan ini ditulisnya dalam kitab ''Al-Murid Al-Kalam Ala’amal Al-Maulid''.

=== Pendapat Kedua ===
Pendapat kedua, yang telah menerima dan mendukung tersebut, beralasan bahwa maulid Nabi adalah [[bid’ah mahmudah]], inovasi yang baik, dan tidak bertentangan dengan syariat. Pendapat kedua diwakili oleh Imam [[Ibnu Hajar Asqalani]] dan Imam [[As-Suyuthi]]. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah. Yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tetapi keberadaannya tidak bertentang dengan ajaran Islam. Bagi As-Suyuti, keabsahan maulid Nabi Muhammad SAW bisa dianalogikan dengan diamnya Rasulullah ketika mendapatkan orang-orang [[Yahudi]] berpuasa pada [[hari Asyura]] sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatan [[Nabi Musa]] dari kejaran [[Firaun]]. maulid Nabi, menurut As-Suyuti, adalah ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam kitab ''Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam''.

### MENURUT PENDAPAT PENULIS :
Bagi muslim/ah yang biasa merayakan ulang tahun hari kelahirannya dengan mengadakan pesta dan berfoya-foya yang menghabiskan banyak dana maka dari pada begitu lebih baik mengikuti pendapat kedua, yaitu ikut memperingati Maulid Nabi. Dengan begitu dana yang dikeluarkan lebih berguna…
Semoga Allah SWT menerima sebagai amal ibadah yang baik… aamiin.

Bagi yang mengikuti pendapat pertama, sebaiknya menghormati orang yang mengikuti pendapat kedua yaitu orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi, sehingga dengan begitu kehidupan bermasyakarat kita tetap terjaga kerukunannya….

Astaghfirullah,
Wallahu a’lam bisshowaf…

“ PERJUANGAN HIDUP MENUJU KESUKSESAN ABADI “


  PERJUANGAN HIDUP MENUJU KESUKSESAN ABADI 

 


Ketika ku ingin mengepakkan sayapku tuk terbang kembali,
ku tak punya tenaga, lemas tanpa daya…
Kenangan dan bayangan tempat itu masih sangat lekat di sukmaku,
entah sampai kapan bayangan tempat itu kan berada di sukmaku?
Bagiku sangat sulit melepas ingatan tempat itu.

Tempat itu sungguh sangat indah,
menyimpan kenangan yang tak kan mungkin ku lupakan,
sungguh indah tuk dikenang..
amat sayang jika ditinggalkan.

Kadang aku rindu pada tempat itu,
namun kutahu terlarang bagiku tuk merindukan tempat itu…
Berat menahan rasa,
tapi bagiku itulah perjuangan hidup menuju kesuksesan abadi…
yang pada akhirnya nanti
kan kutemukan lagi tempat indah, nyaman dan suci
tempat yang juga pasti mendapat ridha Illahi Rabbi.

TGLK, hari Selasa, 15-01-2013 pkl. 23.32 WIB

SOAL-SOAL TURUNAN FUNGSI



PETUNJUK : Pilihlah satu jawaban yang paling benar!
(Saat mengerjakan tidak boleh nyontek dan bertanya ke teman)       

1.       Tentukan turunan fungsi f(x) = x6 + 8x2 5x +7 !
A.      6x5 + 16x + 5                                     C. 6x5 16x + 5                               E. -6x5 16x 5
B.      6x5 + 16x 5                                     D. 6x5 16x 5
2.       Tentukan turunan fungsi f(x) = (x – 1)(x4 + 6) !
A.      -5x4 4x3 6                                    C. 5x4 4x3 +6                                  E. 5x4 4x3 +6
B.      5x4 4x3 + 6                                      D. 5x4 4x3 6
3.       Jika f(x) = x2  -  1x  + 1  maka tentukan f ’(x) !
A.      2x + x2                   B. 2x -2                   C. 2x   x 2           D. 2x – x -2           E. 2x +  x -2          
4.       Tentukan turunan f(x) = (2 – 6 x)3 !
A.      3 (2 – 6 x)2           B. (6 – 18 x)2           C. -6(2 – 6 x)2       D. -18(2 + 6 x)2   E. -18 (2 – 6 x)2
5.       Jika f(x) = x3 + 7x2 5, maka nilai a yang memenuhi f’(a) = 20 adalah .....
A.      -2 atau              B. -2 atau               C. 2 atau           D. 2 atau            E. 2 atau  
6.       Tentukan persamaan garis singgung pada kurva f(x) = 2x3 + 3x2 + x  dititik (-1,0) !
A.      y = x                       B. y = 1                  C. y = x -1              D. y = x + 1         E. y = x 1
7.       Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x2 + 4x + 3 yang sejajar garis y = 2x + 3
A.      y – 2x + 6 = 0                                       C. y – 2x – 6 = 0                                E. y + 2x + 6 = 0
B.      y – x + 6 = 0                                          D. y – x – 6 = 0
8.       Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x3 + 3x2 – 2x – 5 dititik (1,-3)
A.      y = 6 x + 6                                             C. y = 7x – 3                                     E. y = 7x – 10
B.      y = 7x + 1                                              D. y = 3x2 + 6x - 2
9.       Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = 3x2 – 2x + 5 yang sejajar dengan garis y = 4x + 5
A.      y = 6 x – 2            B. y = 4x + 5            C. y = 6 x + 3        D. y =  4x + 2       E. y = 6 x + 2
10.   Tentukan persamaan garis singgung pada kurva x2 – y + 2x – 3 = 0 yang tegak lurus garis x – 2y + 3 = 0
A.      y + 2x + 7 = 0                                      C. y – x + 2 = 0                                    E. y + x + 2 = 0
B.      y – 2x + 3 = 0                                       D. y + x – 3 = 0
11.   Tentukan interval dimana kurva f(x) = x3 + 3x2 + 5 turun!
A.      -3 < x < 0              B. -6 < x < 0           C. 2 < x < 0           D. -5 < x < 0         E. -2 < x < 0
12.   Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x3  di titik dengan ordinat 8
A.      3x – y – 8 = 0                                      C. 3x +  y + 8 = 0                                 E. 12 x – y + 8 = 0
B.      12 x – y – 16 = 0                                  D. 12 x +  y + 16 = 0
13.   Tentukan interval kurva f(x) = x3 + 3x2 – 9x + 7  naik !
A.      x < -3 atau x > 3                                 C. x < -3 atau x > 1                             E. x < -3 atau x > -1
B.      x < -2 atau x > 1                                  D. x < -2 atau x > 3
14.   T entukan nilai stasioner kurva y = x3 – 6 x 2 + 5 !
A.      64                           B. -96                     C. -27                     D. 12                      E. 5
15.   Diketahui keliling suatu persegi panjang adalah 480 meter. Luas maksimum dari persegi panjang tersebut adalah …
     A. 6400 m                      B. 8600 m                C. 10800 m            D. 14400 m        E. 16400 m