Rabu, 12 Maret 2014
Pagi ini aku menjalani aktivitas rutin seperti biasanya.
Sebelum berangkat sekolah untuk mengajar dan menjadi guru piket, aku merawat
bapak.
Tak ada firasat yang aneh, semalam pun aku tidak bermimpi
yang aneh pula.
Tepat jam 08.30 aku mulai ngajar di kelas XI IPS 2. Aku
menikmati ngajar hingga bel istirahat pertama jam 10.00 dibunyikan.
Aku keluar kelas, diikuti beberapa siswa keluar kelas juga.
Saat istirahat, aku berada di ruang guru.
Salah seorang guru mengajak aku untuk ikut mendampingi siswa
kelas XI IPA 1 ta’ziyah.
Sehubungan jam 11 nanti aku harus piket maka aku mengatakan
kalau tidak bisa ikut mendampingi anak-anak ta’ziyah, apalagi piket hari ini
harus ngebel menggunakan bel manual krn bel otomatis lewat computer sedang
error akibat hujan geledek kemarin.
Tibalah waktuku yang bertugas piket.
Aku dan guru piket sebelumnya, bu Maya, saling serah terima
tugas piket.
Siang ini aku merasakan lemas, lapar dan ngantuk…
Rencanaku setelah istirahat kedua aku ke kantin membeli
makanan.
Detik-detik jam istirahat, aku bersiap membunyikan bel
secara manual.
Bel terbuat dari besi, bel terletak di samping tangga menuju
lantai atas perpustakaan SMADA, tepatnya digantungkan di pohon, di bawah
pohon itu ada selokan yang cukup dalam, kedalaman +- 75 cm, dan lebarnya +- 30
cm.
Saat berjalan menuju bel sambil membawa palu, aku melihat bu
Sru, membawa kresek hitam berisi makanan sepertinya dibawa dari kantin. Batinku
“Setelah ngebel aku nanti juga mau ke kantin beli makanan”.
Kemudian aku membunyikan bel…” teng…teng…teng…” tiga kali
teng, aku langsung berjalan mau balik.
Beberapa langkah saja, tiba-tiba…gedubrak… aku terpeleset
jatuh di selokan.
Kaki kiri masuk selokan dan kaki kanan msih di atas, dan
untuk menjaga keseimbangan secara reflek tangan kiri langsung menumpu badan dan
kepala yang jatuh ke arah kiri.
Saat menumpu tangan kiriku bertumbukan dengan pinggiran
selokan yang keras hingga menyebabkan kedua tulang di tangan kiriku patah
(mengetahuinya setelah di foto rongsent).
Aku berusaha untuk bangun sendiri, tapi tangan kiriku tak
bisa kugerakkan.
Aku minta tolong, beberapa anak yang sebelumnya meminta
dispensasi untuk rapat persiapan smada fest menolong aku, membawaku ke UKS.
Teman-teman membantuku, ada yang menelpon keluargaku untuk
mengabarkan kecelakanku, yang pasti berbagai tindakan teman-teman sangat
membantu banyak, hingga aku diantar ke RS Iskak Tulungagung.
Sampai di RS Iskak skitar pukul 13.30, aku ditangani….
Tak lama, kakakku yang nomor dua datang.
Beberapa saat setelah ditangani aku dibawa ke tempat foto
rongsent, tangan kiriku di rongsent untuk mengetahui kondisinya.
Ternyata hasilnya kedua tangan kiriku patah,
sehingga aku harus rawat inap dan besok dioperasi pemasangan platina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar