Pengertian sekolah inklusi seperti pernyataan Staub
dan Peck (1995) dalam Sunardi (2002) dalam Kuning (2010) yang mengemukakan
bahwa pendidikan inklusif adalah “penempatan anak berkebutuhan khusus tingkat
ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler”.
Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan
pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa
berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya
masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan
potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa
regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup
eksis dan harmonis dalam masyarakat.
Dalam sekolah inklusi ada kurikulum individual yaitu
kurikulum khusus individu tertentu sehingga dengan metode seperti ini, sistem
kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Tujuannya adalah membimbing anak untuk sukses dalam kehidupan masyarakat dengan
bakat yang mereka miliki. Walaupun sekolah inklusi memiliki kurikulum
individual bukan berarti kurikulum nasional diabaikan. Kurikulum individual itu
sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum nasional sehingga perserta didik
mampu lebih mengoptimalkan potensinya.
Sebelum sekolah inklusi berkembang, di Indonesia berkembang
model sekolah Segregasi dan Integratif. Sekolah Segregasi yaitu sekolah yang
menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus (tunanetra, tunarungu, tunadaksa,
tunagrahita) ditempatkan sekolah khusus semacam sekolah luar biasa (SLB).
Sedangkan sekolah integratif adalah sekolah yang memiliki kurikulum standar dan
menghendaki setiap siswa untuk menempuh kurikulum tersebut. Biasanya yang dapat
bersekolah di sekolah ini adalah siswa-siswa yang memiliki fisik dan mental
yang normal. Sekolah model integratif ini adalah sekolah-sekolah yang banyak
diketahui oleh masyarakat pada umumnya.
Sekolah Segregasi memang dirancang baik kurikulum maupun
sarana prasarana untuk anak special need. Tetapi dalam kehidupan mereka kelak,
mereka akan berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini membuat mereka
sukar beradaptasi karena keluar dari lingkaran kenyamanan komunitas special
need masuk dalam lingkungan yang baru yaitu masyarakat. Hal ini akan
menjadi masalah ketika dua komunitas tersebut berbaur dalam masyarakat. Sekolah
integratif yang pada umumnya terdiri dari siswa-siswa regular akan terasa asing
dengan kehadiran special need, hal ini disebabkan karena mereka belum
mengenal, mengetahui, dan memahami tentang special need. Untuk
membiasakan anak-anak special need supaya mampu berinteraksi dalam
masyarakat dan mampu hidup eksis dalam masyarakat dan bagi siswa regular
tercipta pengetahuan, pemahaman serta peran aktif dalam berinteraksi dengan
special need maka perlu adanya sebuah sistem sekolah yang mempertemukan mereka
dalam satu sistem sekolah yaitu sekolah inklusi.
Sekolah inklusi pada dasarnya bertujuan merangkul semua
siswa berbagai latar belakang dan kondisi dalam satu sistem sekolah dan mencoba
untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa yang majemuk tersebut. Dalam
mengembangkan potensi siswa tidak hanya diterapkan kepada siswa special need
tetapi juga siswa yang lain yang bukan special need. Pada dasarnya
setipa siswa memiliki potensi, Cuma kadang yang menajdi masalah adalah sekolah
kurang jeli melihat potensi tiap-tiap siswa dan tidak ada progam individual
untuk mengembangkan potensi masing-masing siswa tersebut. Dalam multiple
intelligences oleh Howard Gardner di jelaskan bahwa kecerdasan/potensi
seseorang tidak bertumpu pada kecerdasan intelektual saja, tetapi ada banyak
kecerdasan yang lain, misalnya kecerdasan logis matematis yaitu berpikir dengan
penalaran, mendudukan masalah secara logis, ilmiah dan kemampuan matematik. Ada
kecerdasan linguistik verbal yaitu kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara,
menulis, membaca, menghubungkan dan menafsirkan. Ada juga kecerdasan musikal
ritmik misalnya menyanyi, irama, melodi dan alat musik. Ada kecerdasan
interpersonal yaitu keterampilan manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi
dengan manusia lain, mislanya dalam organisasi, memimpin, berpidato,
bersosialisasi. Seseorang yang pandai menari, berolah raga, bermain drama
merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetik. Ada juga seseorang
yang memiliki kecerdasan spacial visual misalnya seorang desainer, illustrator,
peluksi. Selain itu ada juga kecerdasan naturalis dan intrapersonal. Setiap
manusia pasti memiliki kedelapan kecerdasan diatas walaupun kuat disatu sisi
dan lemah disisi lain.
Sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya terlalu fokus pada
kecerdasan intelektual saja, sehingga kecerdasan yang lain kurang begitu
ditangani apalagi dikembangkan. Disinilah peran sekolah inklusi di masa depan
sebagai sekolah yang mampu menemukan dan mengembangkan potensi-potensi siswa
baik siswa special need ataupun siswa reguler sehingga menjadi siswa
yang sepcialis dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya. Kelak,
generasi tersebut akan menjadi generasi yang ahli, harmonis dan memberi manfaat
bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa
Sumber
dari: