Lalu pertanyaan yang muncul adalah, “Apa benar ada manusia yang sibuk?!” Boleh jadi masalah sebenarnya yang dihadapi adalah bahwa orang-orang seperti itu tidak mau mengatur waktu yang mereka miliki seoptimal mungkin.
Masing-masing manusia mendapatkan jatah waktu yang sama dari Allah Swt sebanyak 24 jam. Namun ada manusia yang mampu berbuat banyak hal, dan tidak sedikit manusia yang tidak melakukan apapun atas waktu yang diberikan.
Karena waktu yang tidak tertata dengan baik maka jangankan waktu untuk keluarga, tetangga dan kerabat, untuk diri sendiri saja ia sulit mengatur waktu!
Banyak orang yang menghabiskan waktu di hari libur dengan memperbanyak tidur, padahal pasangan dan anak-anaknya menanti untuk bercengkrama.
Maka mengawali pembicaraan tentang punctuality (tepat waktu) haruslah dimulai dari penataan waktu yang tepat.
Di bawah ini ada sebuah ilustrasi menarik yang perlu disimak:
Dalam sebuah kuliah manajemen, seorang dosen memperagakan beberapa alat-alat sederhana seperti bejana kaca, bebatuan, kerikil, pasir dan air. Dosen tersebut mengatakan kepada para mahasiswanya bahwa ia hendak mengajarkan cara mengelola waktu yang optimal.
Dosen itu bertanya kepada murid-muridnya, “Aku akan mengisi bejana kaca ini dengan bebatuan ini!” Ia pun mengisi bejana kaca tersebut dengan bebatuan hingga penuh. Saat sudah tidak bisa lagi satu batu pun dimasukkan ke dalam bejana lalu sang dosen bertanya kepada para mahasiswa, “Apakah bejana kaca ini sudah penuh?!”
Para mahasiswa serentak menjawab, “Ya!” Mendapati jawaban mereka, sang dosen berkata, “Menurutku bejana ini belum penuh!”
Dosen itu kemudian memasukkan kerikil-kerikil kecil yang mengisi ruang di dalam bejana yang tidak bisa diisi oleh bebatuan. Di antara celah bebatuan, maka kerikil-kerikil itu pun berselipan. Para mahasiswa terkesima melihat cara bagaimana dosen mencoba menjelaskan.
Begitu bejana kaca terlihat penuh, sang dosen bertanya, “Apakah bejana ini sudah penuh?!” Serentak mahasiswa yang sudah mulai paham menjawab, “Ya sudah penuh, namun masih bisa diselipkan dengan pasir!”
“Betul sekali!!!” jawab sang dosen. Maka sang dosen pun mengisikan pasir ke dalam bejana kaca yang sudah berisikan bebatuan dan kerikil. Ternyata pasir pun bisa dimasukkan ke dalam bejana kaca.
“Apa masih bisa dimasukkan benda selanjutnya?!” tanya sang dosen kepada mahasiswa. Bejana kaca itu kini sudah bermuatan bebatuan, kerikil dan pasir. Namun para mahasiswa mengatakan, “Coba tambahkan air ke dalam bejana itu, Pak!”
Sang dosen pun menganggukkan kepala tanda setuju…. Subhanallah…, rupanya bejana kaca yang awalnya dikira sudah penuh dengan bebatuan rupanya masih bisa ditata hingga dapat memuat kerikil, pasir dan air.
Mungkin para pembaca sekarang sudah memahami bahwa adakah orang yang sibuk? Ternyata sesibuk apapun, manusia bisa menghandle kegiatan dan tugas yang ia miliki. Mungkin bebatuan di atas bisa mewakili kegiatan-kegiatan utama kita.
Sedangkan kerikil adalah kegiatan bersama keluarga dan tetangga. Pasir mewakili kegiatan tertier seperti arisan, kondangan, walimah, atau apapun namanya. Sedangkan air mungkin adalah ibadah yang meliputi seluruh kegiatan yang kita lakukan.
Inilah semangat yang dipegang teguh oleh pribadi sukses bahwa setiap waktu harus berarti dan tidak terbuang secara percuma. Allah Swt berfirman: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al Insyiraah [94] : 7)
Bahkan Allah Swt yang amat sibuk dengan urusan semua makhluk menggambarkan kesibukan yang Dia Swt lakukan: “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar Rahmaan [55] : 29)
Konklusinya adalah kesibukan yang kita miliki bukanlah sebuah beban, namun ia mengasah kemampuan kita untuk dapat melakukan banyak hal dengan waktu yang terbatas dan hasil yang optimal.
Karena itu banyak orang sukses yang mengatakan, “Bukan saya pintar mengatur waktu, namun karena tugas yang ada-lah yang membuat saya mampu melakukan semua hal!” Karenanya, apa Anda masih percaya ada manusia sibuk?
Sumber : http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/adakah-orang-sibuk.htm#.U3f406I0XFw