Seringkali
aku berkata,
Ketika smua orang memuji milikku ..
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipanNya
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk
milikNya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan
itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah.
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai
petaka.
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk
melukiskan kalau itu adalah derita..
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan
hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan & kasihNya harus berjalan
seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai
keinginanku.
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya
untuk beribadah kepada-Nya.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan seharusnya menjadi sama saja”.
Dia menitipkan semuanya kepada kita, adalah agar
kita dapat menyadari kebesaran Nya & berkat yang dilimpahkanNya dalam hidup
kita & mensyukuri segala berkat yang telah kita terima dalam bentuk apapun.
Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik untuk
hidup kita & berguna bagi orang lain, sesuai ketentuan Alloh SWT &
RasulNya.
Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan
bila Kita hanya menguras pikiran dan tenaga untuk mendapatkan BUNGKUS-nya saja
dan mengabaikan ISI-nya.
Bedakanlah apa itu “BUNGKUS” nya dan apa itu “ISI” nya.
“Rumah yang indah” hanya bungkus nya;“Keluarga
bahagia” itu isi nya.
“Pesta pernikahan” hanya bungkus nya; “Cinta kasih,
Pengertian, dan Tanggung jawab” itu isi nya.
“Ranjang mewah” hanya bungkus nya; “Tidur nyenyak”
itu isi nya.
“Kekayaan” itu hanya bungkus nya; “Hati yang
gembira” itu isi nya.
“Makan enak” hanya bungkus nya; “Gizi, energi, dan
sehat” itu isi nya.
“Kecantikan dan Ketampanan” hanya bungkus nya;
“Kepribadian dan Hati” itu isi nya.
“Bicara” itu hanya bungkus nya; “Kenyataan” itu isi
nya.
“Buku” hanya bungkus nya; “Pengetahuan” itu isi
nya.
“Jabatan” hanya bungkus nya; “Pengabdian dan
pelayanan” itu isi nya.
“Pergi ke tempat ibadah” itu bungkus nya;
“Melakukan Ajaran Agama” itu isi nya.
“Kharisma” hanya bungkus nya; “Karakter” itu isi
nya.
UTAMAKANLAH ISINYA, NAMUN RAWATLAH BUNGKUSNYA.
Salam Sukses Selalu penuh Barokahnya Alloh.SWT.
aamiin
Seekor
monyet sedang nangkring di pucuk pohon klapa.
Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede.
Angin Topan, Tornado dan Bahorok.
Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yg bisa
paling cepet jatuhin si monyet dr pohon kelapa.
Angin Topan bilang,dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik, katanya.
Angin Bahorok senyum ngeledek äπϑ bilang,15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ktiga angin itu maju.
Angin TOPAN duluan … dia tiup sekenceng2nya,
Wuuusss…
Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung
megang batang pohon kelapa, Dia pegang sekuat2 nya. Beberapa menit lewat, nggak
jatuh2 si monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO Wuuusss… Wuuusss…
Dia tiup sekenceng2nya. Ngga jatuh juga tuh monyet.
Angin Tornado jg nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia
tiup.
Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin
kenceng pegangannya.
Nggak jatuh-jatuh.
Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin,si monyet memang
jagoan. Tangguh.
Daya tahannya luar biasa.
Ngga lama, datang angin SEPOI-SEPOI..
Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan
îτϋ diketawain sama tiga angin lainnya. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang
kecil.
Nggak banyak omong, angin SEPOI-SEPOI langsung niup
ubun-ubun si monyet. Psssss…
Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si
monyet. Nggak lama ketiduran dia trus lepaslahpegangannya Alhasil, jatuh deh
tuh si monyet.
PESAN MORAL :
Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN…Dicoba
dengan PENDERITAAN…
Didera MALAPETAKA… Kita kuat bahkan lebih kuat dari
sebelumnya…
Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN… KESENANGAN…
KELIMPAHAN…Disinilah ” kejatuhan ” itu terjadi. Jangan sampai kita terlena…
Tetap ”Rendah hati”, “Mawas diri”, "Sederhana",
krn bukan kritikan yg membuat anda jatuh tapi sanjungan & pujian, Dan
jadikan diri kita Manusia yg “Bijak dan tetap Bersyukur”
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi
satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.
Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran
positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena
itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.
Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak
perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.
Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.
Waktu terus berputar sepanjang zaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan
merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena
siapa diri kita.
Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa
daripada kita.
Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di
sekeliling kita.
Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu
sangat penting, jauh melebihi harta.
Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak
yang belum dikerjakan.
Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu
ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup tidaklah lama, sudah
saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.
Saling menghargai, Saling membantu dan memberi,
juga saling mendukung.
Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan
syarat.
Believe in "Cause and Effect"
Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai.
Do the best, be the best and for the best